Tak ada tren perayaan, mengapa Valentine dilarang di Banda Aceh?

iadi_160210104923_valentine_not_for_us_aceh_640x360_facebook_nocredit
Pemudi di Banda Aceh pada saat diluncurkannya tagar #ValentineBukanUntukKami. – BBC

Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal melarang perayaan hari Valentine, termasuk melalui media sosial, langkah yang diterapkan walaupun tidak ada tren perayaan hari kasih sayang di kota itu.

Larangan dan penolakan dengan tagar Valentine Bukan Untuk Kami ini disebarkan melalui Facebook, Twitter dan Instagram dalam satu minggu terakhir untuk apa yang disebutkan Illiza ‘menjaga akidah Islam’.

Namun sejumlah warga Banda Aceh menyatakan tidak ada kecenderungan meningkatnya perayaan hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun di kalangan anak muda.

“Ini disampaikan ke generasi muda untuk menjaga akidah Islam. Islam itu agama kasih sayang dan tidak ada yang dikhususkan pada hari kasih sayang dan ini bukan budaya Islam. Jadi harus dicegah karena terkait perilaku anak muda,” kata Illiza kepada BBC Indonesia.

Illiza juga menyatakan langkah mengeluarkan tagar #ValentineBukanUntukKami ini karena pihaknya khawatir tren perayaan Valentine akan meningkat di kalangan anak muda.

“Banyak (yang melakukan perayaan), ada anak-anak muda, tempat-tempat usaha seperti mal, swalayan yang membuat tema Valentine,” kata Illiza.

walikota

Wali kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal (tengah) bersama anak-anak muda.

Perayaan Valentine menurut Illiza melalui pesta-pesta atau pun secara tersembunyi.

Namun sejumlah warga di Banda Aceh menyatakan tren perayaan Valentine ini tidak menonjol seperti perayaan hari keagamaan.

‘Tak ada keluhan dari warga’

anak-anak muda acehImage copyrightFacebook

Image captionTanggapan anak-anak muda Aceh positif atas larangan ini, kata Illiza.

“Saya tidak melihat ada yang mencolok (terkait perayaan Valentine). Saya tahu (Valentine) karena melihat di TV dan juga di sinetron,” kata Martunus, seorang pemuda Banda Aceh.

Sementara Darlis Aziz, ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Banda Aceh juga menyatakan hal senada.

“Menurut pengamatan saya dalam beberapa tahun terakhir tidak ada tren (meningkatnya) perayaan (Valentine). Mungkin ada tetapi terselubung,” kata Darlis.

Uzair, seorang wartawan di Banda Aceh mengatakan selama ini “tidak ada keluhan dari warga, misalnya dari para orang tua, tentang perayaan Valentine.”

“Jadi tanpa larangan pun, orang biasa saja pada hari Valentine tidak heboh,” kata Uzair.

Namun Martunus dan Darlis menyatakan langkah seperti ini tetap perlu untuk mencegah kemungkinan ‘pergaulan bebas’ di kalangan remaja.

“Saya rasa ini tetap perlu sebagai langkah edukatif dan juga preventif,” kata Darlis.

Sejumlah komentar yang masuk tentang tagar #ValentineBukanUntukKami termasuk dari Surya Mardiansyah ‏yang menulis, “No valentine day no cry.. Because I’m a Muslim,” dan Santri ifqi ‏yang mengatakan, “Remaja Islam mana ni, malu ya kalau ikut”an budaya orang lain, kalau kasih sayang jangan pelit bisanya cuma sekali dalam setahun.”

Sumber: BBC Indonesia

Juga baca

Valentine, oleh Sarlito Wirawan Sarwono