Ada Apa dengan Kampus?

iadi_jassgoestocampusui121125
Ilustrasi: Khas Mahasiswa, acara musik di sebuah kampus di Depok (jakartavenue.com)

oleh Bre Redana, Penulis Kolom “CATATAN MINGGU” Kompas Minggu

DINAMIKA dan kebebasan kehidupan kampus saya kenang sebagai masa indah, penting, dan tak terlupakan. Tentu saja karena sudah berlalu puluhan tahun, menjelma menjadi nostalgia, tak terelakkan bias, seolah masa itu serba beres dan indah belaka.

Waktu itu, tahun 70-an, produk pers mahasiswa dari perguruan-perguruan tinggi terkemuka berseliweran, bisa kami nikmati di kampus kami di Salatiga. Tak terkecuali pleidoi para aktivis yang dianggap makar terhadap Orde Baru dalam persidangan. Pikiran-pikiran mereka tajam, kritis, dan berdaya gugat.

Kalau mau menilik ulang risalah zaman itu, baca salah satunya buku karya Francois Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia. Didasarkan penelitian atas pers mahasiswa yang terbit di Bandung, Mahasiswa Indonesia, sedikitnya di situ tergambar anatomi aktivisme mahasiswa kala itu. Dilukiskan oleh Raillon bagaimana mereka ikut punya peran dalam pembentukan platform Orde Baru, sebelum kemudian bersimpang jalan dengan rezim itu, dibreidel, dan tamatlah riwayatnya.

Dari waktu ke waktu, terjadi semacam proses tarik-menarik antara kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan yang dijamin undang-undang dengan kepentingan penguasa. Seiring perubahan zaman disertai pragmatisme kehidupan, kini tak banyak lagi yang peduli pada asas pendidikan tinggi berikut kebebasannya tadi. Banyak yang tak malu-malu menawarkan lembaga pendidikan tinggi sebagai sekadar pabrik untuk mencetak lulusan yang dijamin bakal sukses, punya pekerjaan bagus, banyak duit. Iklannya disertai foto mahasiswa bertampang anak mami. Bukan “anak-anak revolusi” ala Budiman Sudjatmiko. Soal mimbar akademik, siapa peduli ketika sebuah gerombolan menyerbu kampus?

Entah apa yang terjadi dengan zaman ini. Intoleransi masuk kampus, diembuskan oleh profesor, doktor, sebagian dari mereka berada dalam fungsi sangat strategis pemerintahan. Mereka bicara moral, menjadikan kampus seperti tempat ibadah, bukan tempat pengetahuan dan riset. Kalau yang bicara tetangga saya di kampung tukang batu tak masalah, tetapi ini pejabat yang opininya berimplikasi politis dan mampu menyulut sentimen massa.

Intoleransi dalam beberapa hal lebih mencemaskan dibandingkan radikalisme. Radikalisme, fundamentalisme, kalau mau ditambah lagi integralisme, mengandaikan adanya doktrin. Ada landasan teoretik, atau pseudo-teoretik, yang digulati. Kita bisa melawan radikalisme pada tataran hermeneutik, sampai doktrin mereka goyah. Banyak dulu teman semasa bermahasiswa kekiri-kirian. Setelah lulus, kerja, mapan, makmur, terkepung kapitalisme global, mereka jadi lebih santai dan berseloroh: kalau umur 20-an tak jadi Marxist tak punya hati. Sebaliknya, kalau umur 40-an tetap Marxist tak punya otak.

Kembali ke intoleransi, dia ada begitu saja tanpa doktrin-doktrinan. Umberto Eco menyebut pada intoleransi terdapat akar-akar biologis, memanifestasi antara lain dalam kehidupan binatang untuk mempertahankan teritori. Pendeknya, ia merupakan reaksi emosional yang tak jelas dasarnya, selain kebencian terhadap pihak lain karena warna kulitnya berbeda, bahasanya berbeda, makanannya berbeda, preferensi seksnya berbeda, dan seterusnya. Yang sedang dikecam ramai-ramai sekarang sampai katanya tidak boleh menginjak kampus adalah kelompok LGBT-lesbian, gay, biseksual, dan transjender/ transeksual.

Apa dasarnya? Bagaimana mendiskusikan masalah ini? Itulah persoalannya. Seperti disebut tadi, intoleransi tidak memiliki doktrin, tak ada krida intelektual. Pokoknya tidak senang. Ia tak bisa dikritik ataupun dipatahkan dengan argumen-argumen rasional.

Sebenarnya saya pernah berpikir ingin kuliah lagi. Membayangkan Socrates. Hanya saja, di kampus mana sekarang kebebasan akademik, tradisi berpikir, tradisi intelektual, masih terpelihara?


Sumber: Kompas 31 Januari 2016