Adriano Rusfi: Gerakan LGBT Jadi Sekte Seksual

iadi_islustrasi-lgbt-jakarta
Ilustrasi

Adriano Rusfi, psikolog yang menempuh pendidikan di UI, menulis dalam akun Facebook-nya, ”LGBT: Sebuah Gerakan Penularan”. Tulisan itu dibagi ulang 594 kali, mendapat like 626 dan mendapat komentar kurang-lebih 162. Ia mengaku memiliki 49 saksi dari empat perguruan tinggi dan tiga saksi mantan gay dari satu perguruan tinggi.

Ia mengumpulkan banyak kesaksian di kampus-kampus tentang mahasiswa-mahasiswa normal yang dipenetrasi secara massif agar terlibat dalam LGBT dan tak bisa keluar lagi. Perilaku mereka seperti sekte, kultus atau gerakan eksklusif lainnya: fanatik, eksklusif, penetratif, dan indoktrinatif. ”Ya, ini berkembang menjadi sebuah sekte seksual,” tulis Adriano.
Target mereka mendorong pranata hukum agar eksistensi mereka sah secara legal. Untuk itu, kata Adriano, mereka membutuhkan beberapa prasyarat.

Pertama, jumlah mereka harus signifikan secara statistik.

Kedua, keberadaan mereka memenuhi persyaratan populatif, sehingga layak disebut sebagai sebuah komunitas.

Ketiga, perilaku mereka telah diterima secara normatif menurut persyaratan kesehatan mental dari WHO.

Untuk memenuhi tiga hal ini, organisasi ini harus menularkan kepada lingkungan. ”Mereka sadar, pertumbuhan jumlah mereka hanya bisa dilakukan lewat penularan, mengingat mereka tak mungkin tumbuh lewat keturunan. Mereka sadar, tanpa penularan mereka akan punah!” tulis Adriano.

Di kampus, kata Adriano, mereka menyasar dua: mahasiswa dan institusi akademik. Mahasiswa adalah generasi galau identitas dengan kebebasan tinggi dan tinggal di banyak tempat indekos. Sedangkan institusi akademik mereka butuhkan untuk menguatkan legitimasi ilmiah atas ”kenormalan” mereka. ”Mereka bergerilya secara efektif, dengan dukungan payung HAM dan institusi internasional,” Adriano menambahkan.

Dosen psikologi UIN Jakarta, Ilmi Amalia mencermati, gerakan pro-LGBT kini cukup kuat terstrukur dan terorganisasi. Komunitas LGBT saat ini lebih mudah ditemukan. Ia kaget menemukan gerakan ini masuk ke kampus-kampus.

”Saya kira saya berhadapan dengan orang per orang, ternyata ini gerakan yang rapi, sistematis sangat terstrukur. Mereka masuk kampus dengan cara luar biasa,” katanya.

Seorang dosen sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya, aktivis pembela hak-hak komunitas LGBT, yang menolak disebut namanya menyangkal ada gerakan LGBT di kampus. ”Yang ada itu gay atau lesbi yang berada di dalam kampus, baik menjadi dosen atau mahasiswa,” katanya. Sebagian besar gay dan lesbian tidak diketahui, kecuali mereka menyatakan. Seperti Dede Oetomo, dosen Universitas Airlangga, Surabaya.

Bahwa gay itu melembek atau orang lesbi maco, kata dia, belum pasti. Berbeda dengan transgender atau waria. Semua orang pasti tahu siapa mereka. ”Khusus yang transgender, sejak awal mereka sudah termarginalkan,” tuturnya. ”Baik di wilayah pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya.”

Dalam pengamatannya, terutama gay dan lesbi, mereka membangun gerakan tidak di dalam kampus, meskipun mereka berasal dari kampus. Di Surabaya setidaknya ada dua lembaga resmi: Gaya Nusantara dan Perwakos. Gaya Nusantara lebih banyak gay. Perwakos lebih pada kelompok Waria.

Komunitas yang didirikan LGBT selama ini sebagai komunitas pertemanan karena ruang publik selama ini tidak menerima keberadaan mereka. Tujuannya jadi ruang pertemanan yang nyaman. Kondisi ini tidak boleh dipandang ekslusif. ”Karena mereka selama ini tersingkir dari ruang-ruang publik, mereka membuat komunitas tersendiri yang nyaman,” katanya.

Forum itu juga sebagai ruang pendidikan sebaya. Saling memberi informasi tentang kesehatan seksual. Karena hubungan seks sesama jenis untuk gay berisiko tinggi. ”Kalau ada yang terinfeksi HIV, mereka saling memberikan dukungan dan ke mana harus berobat,” tuturnya.

LGBT di kampus sebagai wacana sudah sangat biasa diperbincangkan. Bahkan beberapa kampus menjadikannya bahan kajian akademik. ”Baik oleh mahasiswa atau lembaga penelitian seperti pusat studi gender dan sebagainya,” ia menegaskan.

Diskusi LGBT sama halnya dengan diskusi aliran kiri yang secara politis dilarang pemerintah, tapi hidup sebagai kajian akademik. ”Perbincangan LGBT biasanya lewat isu gender dan seksualitas,” katanya. Mereka yang memperbincangkan ini bukan berarti mereka gay atau lesbi atau waria.

Di Jawa Timur, ia paham persis, jumlah LGBT banyak sekali. Gay dan lesbian ada di semua lapisan masyarakat, mulai kalangan terdidik, terkenal, hingga tukang sayur. Ia pernah menemukan pria dari Madura, hidup di lingkunganya santri, memiliki orientasi seksual suka sesama jenis. ”Padahal dia punya istri dan anak,” tuturnya.

Pro Kontra Penyembuhan LGBT

Psikolog klinis UI, Bona Sardo, menjelaskan tak sedikit kliennya bertanya, apakah kecenderungan orientasi jenis ini bisa disembuhkan. “Dari berbagai riset yang saya baca dan penelitian soal ini, belum pernah ada teknik terapi yang berhasil seratus persen mengubah orientasi seksual,” katanya.

Bona mengaku, selama menjadi psikolog, tak pernah sukses menangani klien yang ingin berubah orientasi seksual dari LGBT menjadi heteroseksual seratus persen. Bagi Bona, LGBT tidak menular.

LGBT mengalami fase psikologis cukup sulit hingga dapat menerima dirinya secara utuh. Awalnya mereka menyangkal (denial), kemudian marah (anger), lalu mulai tawar-menawar (bargaining) kepada Tuhan hingga lingkungan, setelahnya mungkin mengalami fase depresi (depression), dan terakhir jika bisa melewati fase ini, ia belajar menerima (acceptance) kondisi.

“Biasanya fase ini diiringi dengan coming out (pengakuan),” katanya kepada Putri Kartika Utami dari GATRA.

Bagi Bona, universitas bisa dijadikan sebagai wadah berkembangnya berbagai kajian soal LGBT, tapi universitas tidak memberikan legalitas. Komunitas seperti SGRC, kata Bona, butuh psikolog klinis yang mendampingi jika ingin memberikan konseling. UI tidak ingin memberikan edukasi yang keliru. Ia kurang cocok dengan model isi brosur SGRC UI. “Kok testimoninya gitu, sih? Kesannya mengajak. Jangan sampai itu disalahartikan,” kata Bona.

Brosur SGRC menampilkan testimoni plus foto, identitas nama dan fakultas, serta kata-kata persuasif. Pencantuman konseling dinilai kurang pas. Sebab, kata Bona, menjadi konselor, seorang psikolog butuh sertifikasi.

”Jangan membuat gerakan yang gegabah dan tidak matang sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat,” katanya.

Lebih optimistis dibandingkan dengan Bona, Ilmi Ilmiati mengatakan LGBT bisa “disembuhkan”. Robert L. Spitzer pada 2003 memublikasikan hasil penelitiannya yang menunjukkan keberhasilan perubahan orientasi seksual yang sukses dilakukan terhadap 200 orang. Namun, ia menarik hasil kerjanya karena mendapat tekanan.

Agar berhasil menjadi heteroseksual, kata Ilmi, orang harus punya motivasi kuat. Tidak cukup itu, ia harus mencari lingkungan baru serta disiplin dalam mengendalikan dorongan orientasi seksualnya. Ilmi menjelaskan, jenis terapinya hanya pendampingan ke arah konseling.

Tidak perlu obat. Untuk konteks Indonesia, nilai agama punya peran penting, pendekatan terapi umumnya menggunakan dalil agama. Itu pula temuan GATRA pada bebersapa mantan LGBT yang diulas dalam bagian ketiga laporan edisi ini.

Penulis buku, LGBT di Indonesia: Perkembangan dan Solusinya, Adian Husaini, merekomendasikan berbagai perguruan tinggi mendirikan bukan hanya pusat kajian, melainkan juga untuk penanggulangan LGBT. Orientasinya pada pemulihan.

Dari berbagai kajiannya di buku itu, ia berkeyakinan, LGBT karena pengaruh lingkungan, bukan kondisi bawaan, bisa menular, dan karena itu, bisa disembuhkan. Ia mendorong masjid-masjid membuka klinik LGBT untuk konseling pemulihan.


 

 

Sumber; Gatranews, 6 Februari 2016