Dua kelompok teror Indonesia terkait ISIS

iadi_jakarta_attack_640x360_reuters_nocredit
Enter a caption

Insiden penyerangan terjadi di kawasan Sarinah, jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (14/01).

Insiden penyerangan di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14/01), dilakukan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS, kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Tito Karnavian. Namun, seberapa banyak kelompok seperti itu di Indonesia?

Dalam jumpa pers, Kamis (14/01), Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Tito Karnavian, mengatakan bahwa insiden penyerangan didalangi Bahrun Naim, warga Indonesia yang ingin memimpin kelompok ISIS di Asia Tenggara.

Sebelumnya, Wakapolri Budi Gunawan menjelaskan bahwa Bahrun telah berkoordinasi dengan sebuah kelompok di Solo, Jawa Tengah.

Kelompok di Solo tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kelompok di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS. Karenanya, menurut mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, potensi ancaman di masa depan masih ada.

“Sangat potensial karena di Indonesia banyak kelompok-kelompok kecil yang berorientasi kepada ISIS,” kata Mbai yang saat ini menjadi konsultan di HSC, Hendropriyono Strategic Consulting.

Bergabung dengan ISIS

Selama dua tahun terakhir ada sebanyak 300 hingga 700 warga Indonesia diyakini telah bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak. Di sana mereka bergabung dengan milisi-milisi dari Malaysia dan membentuk Katibah Nusantara Daulah Islamiyah.

Beberapa kali terjadi, sejumlah orang membawa atribut ISIS melakukan arak-arakan atau unjuk rasa di beberapa kota di Indonesia.

Di Indonesia sendiri diperkirakan setidaknya 30 kelompok telah berbaiat atau berikrar menjadi pengikut ISIS. Beberapa di antara kelompok itu bahkan telah menyuarakan ambisi untuk menciptakan provinsi ISIS di Asia Tenggara bernama Katibah Nusantara.

Ambisi lain datang dari Bahrun Naim, yang menurut Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Tito Karnavian, ingin memimpin Katibah Nusantara. Tito menganalisis, sikap Bahrun menimbulkan persaingan di antara para pemimpin ISIS di wilayah Asia Tenggara, termasuk dari Filipina.


Bahrun Naim disebut sebagai dalang insiden penyerangan di Jakarta.

ISIS di Filipina

Pada November 2015 lalu, aparat Malaysia mengutarakan kekhawatiran mereka bahwa milisi-milisi di Filipina hendak menyatukan kelompok pemberontak Abu Sayyaf dengan kelompok serupa di Asia Tenggara untuk menciptakan provinsi ISIS.

Kekhawatiran itu terbukti. Pekan lalu, tiga kelompok jihadis di Filipina mengucap sumpah setia kepada ISIS sekaligus mengukuhkan ketua Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, sebagai pemimpin bersama.

Penyatuan kelompok-kelompok jihadis di Filipina di bawah panji-panji ISIS juga merembet ke Indonesia. Berikut dua di antaranya:

Abu Bakar Baasyir meminta pengikutnya mendukung ISIS pada 2014.

Jemaah Ansharut Tauhid (JAT)

Mantan pemimpin Jamaah Islamiyah, Abu Bakar Ba’asyir, membentuk JAT pada 2008. Empat tahun kemudian, kelompok tersebut masuk daftar Organisasi Teroris Asing oleh pemerintah Amerika Serikat.

Ba’asyir sendiri kini masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Nusakambangan, setelah divonis 15 tahun penjara pada 2011 karena dinyatakan terbukti menjadi perencana dan penyandang dana bagi pelatihan kelompok bersenjata di Pegunungan Jantho, Aceh, pada 2010.

Di Nusakambangan, Ba’asyir mengatakan mendukung gerakan pembentukan kelompok ISIS. Pada 2014, dia meminta kepada para pengikutnya untuk mendukung ISIS. Namun, menurut seorang pengacaranya, pada Januari 2016 ia telah mencabut dukungan itu.

Aparat Indonesia mengatakan telah menghadang sejumlah pengikut Ba’asyir yang hendak bertolak ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.


Mujahidin Indonesia Timur beroperasi di kawasan Poso, Sulawesi Tengah.

Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

MIT diyakini beranggotakan 40 orang dan beroperasi di kawasan pegunungan Poso, Sulawesi Tengah.

Pemimpin kelompok ini ialah Abu Wardah alias Santoso, mantan kepala JAT cabang Poso. Dia memiliki reputasi melatih milisi, merakit bom, dan menargetkan anggota polisi.

Pada 2015, polisi dan tentara menggelar operasi gabungan untuk melacak Santoso. Dia dilaporkan mampu meloloskan diri, namun wakilnya, Daeng Koro, ditembak mati.

November lalu, MIT merilis video yang meyebut diri mereka sebagai ‘prajurit Negara Islam’ sekaligus mengancam pemerintah dan kepolisian Jakarta.

Pengamat terorisme, Solahudin, mengatakan MIT telah berkoordinasi dengan ISIS untuk melatih beberapa orang etnik Uighur di Poso. Beberapa orang di antaranya ditangkap polisi dan telah diadili.

Kepolisian mengatakan MIT memiliki metode memenggal kepala korban, seperti yang dilakukan ISIS. Beberapa hari sebelum serangan di Jakarta Pusat, pada Kamis (14/01), aparat menahan lima orang yang diyakini terkait dengan kelompok Santoso.

Sumber: BBC Indonesia, 15 Januari 2016