Gafatar di Mata Media

iadi_news_29_1454145263_gafatar
Nasib eks-Gafatar dalam Kartun (Foto: satuharapan.com)

 

Kapolri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti berpendapat, media massa memiliki andil dalam maraknya laporan orang hilang yang diduga terkait Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di sejumlah wilayah. Badrodin mengatakan, hal tersebut justru membuat resah banyak orang. “Itu kan akibat pemberitaan di media. Media itu kan memberitakan gencar-gencar soal Gafatar orang hilang ini itu. Akhirnya, masyarakat di perkampungan menjadi resah dan timbul penolakan-penolakan,” ujar Badrodin di Jalan Lapangan Banteng, Rabu (20/1/2016).

Pemerintah Indonesia melalui berbagai instasi mulai pusat, daerah, dan militer beramai-ramai terlibat dalam pemulangan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Setidaknya ribuan anggota yang tersebar di seluruh wilayah Kalimantan Barat mulai dikirim kembali ke daerah asalnya. Keberadaan organisasi Gafatar menjadi sorotan setelah beberapa orang hilang misterius di Yogyakarta. Antara lain dr Rica Tri Handayani, seorang pegawai negeri sipil (PNS) RSUP dr Sarjito Yogyakarta dan pelajar kelas 1 SMA bernama Ahmad Kevin Aprilio.

Pasca peristiwa itu, semua media baik nasional ataupun lokal beramai-ramai memberitakan orang hilang secara masif di berbagai belahan Indonesia. Bahkan peristiwa Bom Sarinah hanya bertahan beberapa hari saja di media massa. Puncaknya peristiwa penyerangan sejumlah warga terhadap para petani eks Gafatar di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat membuat suasana menjadi memanas yang akhirnya memaksa eks Gafatar yang bermukim di beberapa daerah di Kalimantan Barat terpaksa kembali ke daerah asal.

Berbagai berita soal Gafatar hampir setiap hari memenuhi lini pemberitaan media, mulai dari yang bersumber valid hingga yang faktanya kabur. Berbagai opini baik mediamainstream ataupun media sosial juga turut mendorong sejumlah cap negatif dan penistaan agama terhadap Gafatar. Semuanya hampir berita negatif terkait Gafatar. Media mulai mengaitkan antara ideologi Gafatar yang bertentangan dengan agama dan negara karena hendak menggabungkan tiga agama, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi. Berita-berita tersebut dibarengi juga berita tentang kekerasan yang terjadi terhadap eks anggota Gafatar.

Konflik dalam dalam ranah jurnalisme adalah perihal yang menarik untuk dikupas. Ini adalah bad news yang ditunggu-tunggu oleh pembaca. Hasrat manusia pada hal yang sifatnya kekerasan, seolah terpuaskan ketika menikmati bacaan dan gambar serta foto yang berkenaan dengan berita konflik. Termasuk yang terjadi menimpa anggota eks Gafatar beberapa waktu ini. Soal bahwa ini adalah bad news dan media mesti piawai dalam mengemas sehingga banyak dibaca orang, itu sudah pakemnya. Salah juga jika ada isu sebagus ini, media tidak mampu mengemasnya dengan baik.

Portal berita akan berlomba-lomba memberitakan kepada pembacanya. Pembaca mendapatkan berita yang terbaru dan tepercaya. Setiap informasi baru yang terjadi, bisa dipublikasikan dengan supercepat. Tentu, sebagaimana pembahasan di atas, dengan judul yang menggoda sehingga pembaca bisa membacanya dengan antusiasme yang tinggi. Media massa memang tidak boleh menghilangkan fakta yang terjadi.

Peristiwa orang hilang secara waktu bersamaan memang benar terjadi, bahwa sebagian besar adalah anggota Gafatar juga benar. Itu memang fakta yang harus disampaikan ke publik sehingga informasi utuh dan tidak sepotong-potong. Persoalannya adalah, dengan mengaitkan seluruh peristiwa tadi dengan agama, suku, dan kepercayaan yang mereka anut akan menyelesaikan konflik yang terjadi? Apakah media sadar dengan memberitakan agama, suku, dan ras mereka secara sadar menanam kebencian terhadap entitas para komponen yang terlibat.

Pemberian deskripsi secara jelas terhadap para pelaku baik korban ataupun pelaku kekerasan tentu saja membuat kondisi semakin memanas. Terbukti dengan terjadi kerusuhan di Kabupaten Mempawah. Di sinilah peran media dalam menangani konflik dituntut memiliki kejelian. Media massa hendaknya mengedukasi pembaca, termasuk mereka yang terlibat konflik, untuk segera reda. Jangan malah memberikan porsi yang besar terhadap berita konflik yang ujungnya makin memperuncing keadaan.

Pasalnya bukan kali pertama media massa di Indonesia melakukan pemberitaan yang memperuncing konflik. Sebelumnya, di konflik Tolikara dan Singkil, hingga Ambon banyak media melakukan hal serupa. Mempertajam konflik yang terjadi. Asasinya, jurnalisme adalah jurnalisme. Ia disematkan dengan diksi lain karena ada konteks yang melatarbelakangi. Itulah sebabnya kita banyak mendapat informasi soal jurnalisme damai dan jurnalisme empati.

Dalam buku mereka yang sudah sangat terkenal, Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists  mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun. Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Tapi Kovach dan Rosenstiel menempatkan elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, paling membingungkan.

Sebab orang dapat segera bertanya, kebenaran yang mana? Bukankan kebenaran bisa dipandang dari kacamata yang berbeda-beda? Tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat punya dasar pemikiran tentang kebenaran yang belum tentu persis sama satu dengan yang lain. Sejarah pun sering direvisi. Kebenaran menurut siapa?

Bagaimana dengan bias seorang wartawan? Tidakkah bias pandangan seorang wartawan, karena latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agamanya, bisa membuat si wartawan menghasilkan penafsiran akan kebenaran yang berbeda-beda?

Semangat profesi yang sarat makna bisa dijadikan perspektif oleh jurnalis dan media massa dalam menyikapi sebuah konflik. Konflik boleh saja terjadi dan media sangat pantas memberitakannya. Konflik boleh terus berlarut dan media massa mengikutinya dengan penulisan yang enak dibaca dan cerdas. Namun, media juga tidak boleh terpancing untuk membuat persoalan menjadi lama agar oplah koran meningkat atau jumlah pengunjung situs internet melonjak tinggi. Kalau itu yang jadi ukuran, maka rusaklah jurnalisme.

 

Penulis adalah eks jurnalis TEMPO, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP-GMKI).


 

Sumber: satuhatapan.com 1 Februari 2016