Teror ISIS di Jakarta dan Asia Tenggara

160114080908_jakarta_976x549_afp(1)
Teror Bom Sarinah – BBC

oleh: M Bambang Pranowo; Guru Besar UIN Jakarta;
Rektor Universitas Mathla ‘ul Anwar Banten

Lima teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) akhirnya membuktikan ancamannya, Kamis (14/1). Tiga orang meledakkan diri (bom bunuh diri) di pos polisi di Jalan Thamrin, Jakarta, dan tiga lainnya baku tembak dengan polisi. Kelimanya tewas. Aksi terorisme ISIS di Jakarta ini sebetulnya sudah lama diprediksi. Karena, Jakarta merupakan “point” penting untuk “menguasai” Asia Tenggara.

Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Nur Jazlan pada September lalu menyatakan, Asia Tenggara telah menjadi target teroris ISIS. Enam bulan lalu, misalnya, Polisi Malaysia berhasil mengungkap rencana peledakan bom di kawasan pariwisata Bukit Bintang dan rencana penyerangan markas Angkatan Darat di Kuala Lumpur.

“Saya pikir serangan ISIS gaya Paris bisa terjadi di Asia Tenggara. Ini terjadi karena kawasan Asia Tenggara menjadi lahan subur perekrutan anggota ISIS,” ujar Datuk Nur Jazlan.

Kuala Lumpur khawatir, militan Malaysia yang bersembunyi di Filipina Selatan membentuk jaringan ISIS di Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Juni tahun lalu, seorang yang diduga anggota ISIS ditangkap Polisi Filipina. Warga Australia itu diduga tengah merekrut warga Filipina Selatan untuk berangkat ke wilayah konflik di Irak dan Suriah.

Media lokal mengutip pernyataan polisi Senior Superintenden Conrad Capa yang menyatakan, Musa Cerantonio, warga negara Australia berdarah Filipina itu ditangkap di Kota Lapu Lapu, Provinsi Cebu. Musa Cerantonio dianggap sebagai salah satu pendukung ISIS paling berpengaruh di Asia Tenggara. Ia diduga menggunakan media sosial untuk merekrut pendukung ISIS dan berhasil mengajak kelompok radikal Islam di Filipina (Mindanao) berjihad melawan Barat.

Pertengahan November lalu, kelompok Santoso di Poso menyebarkan ancaman melalui video (internet) terhadap Kepolisian RI dan Pemerintah Indonesia. Meski kekuatan kelompok Santoso ini kecil dibandingkan ISIS, tapi ancaman teroris bersenjata tetap harus diwaspadai. Apalagi, kelompok Santoso ini jauh sebelumnya sudah berbaiat kepada Abu Bakar Al-Baghdadi, pimpinan ISIS.

Sydney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, mengatakan, ada keinginan kuat dari para pendukung ISIS di Indonesia dan Filipina untuk mendirikan semacam provinsi ISIS di Asia Tenggara, yang meliputi Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Dari gambaran ini, aksi terorisme di Jakarta memang sudah diprediksi. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso pun mengakui, aksi terorisme ISIS memang telah lama diduga akan terjadi di Indonesia. Tapi kapan? Itulah kesulitannya, kata Sutiyoso.

Itulah sebabnya, Wakapolri Komjen Budi Gunawan yakin betul aksi terorisme Jakarta itu didalangi Bahrun Naim –salah seorang warga Indonesia yang telah menjadi anggota ISIS dan berambisi untuk menjadi pimpinan ISIS di Asia Tenggara.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dalam laporan surveinya pada 19 November 2015 menyatakan, 86,11 persen rakyat Indonesia mengaku khawatir jaringan ISIS menjadikan Indonesia sebagai target serangan berikutnya setelah Paris. Empat alasan mendasari kekhawatiran itu.

Pertama, gencarnya berita terorisme oleh ISIS di Indonesia yang dikaitkan dengan gerakan Islam radikal setempat. Kedua, sebelum ini peristiwa terorisme sudah kerap terjadi di Indonesia dan pemerintah belum berhasil membasmi hingga ke akar-akarnya.

Ketiga, faktor ekonomi yang labil dan memburuk yang menyebakan banyak orang Indonesia frustrasi dan akibatnya bergabung dengan ISIS melakukan aksi terorisme. Faktor ketiga ini, menurut LSI, diyakini 83,78 persen responden. Keempat, fenomena menguatnya radikalisme dan sektarianisme di Indonesia belakangan ini.

Ada 59,62 persen responden khawatir menguatnya radikalisme dan sektarianisme ini bisa memicu aksi terorisme. Meski jumlah respondennya hanya 600 orang, tapi survei tersebut cukup memberikan gambaran tentang “sikap dan perasaan” bangsa Indonesia terhadap ISIS.

Empat alasan di atas mungkin masih bisa diperdebatkan, tapi kekhawatiran terhadap ancaman ISIS di Indonesia tetap sulit dinihilkan. Kekhawatiran ancaman ISIS bila ditarik ke belakang serupa dengan kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman DI/NII (Darul Islam/Negara Islam Indonesia) zaman Kartosoewirjo dan kelompok Mujahidin (Afghanistan). DI/NII pernah menimbulkan aksi perampokan dan pembunuhan di Malangbong, Garut, pada 1960-an, kemudian pembunuhan wakil rektor UNS di Solo pada 1979.

Selanjutnya, aksi-aksi terorisme oleh kelompok Mujahidin (yang berafiliasi dengan gerakan NII) menjelang dan awal 2000-an. Kelompok Mujahidin dengan tokoh-tokohnya Abu Bakar Ba’asyir, Imam Samudera, Amrozi, Umar Patek, Dulmatin, baik secara langsung maupun tidak langsung, terlibat aksi terorisme di Bali, Kedutaan Australia, Hotel JW Marriott, Hotel Ritz Carlton, dan sejumlah pengeboman gereja.

Kelompok Mujahidin ini sebagian di antaranya alumni perang Afghanistan. Jumlah mereka, menurut catatan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip), Jakarta, sekitar 600 orang. Dengan jumlah 600 orang saja, kelompok ini bisa menimbulkan kecemasan di mana-mana, mulai di ibu kota sampai kota-kota kecil di luar Jawa.

Jika aksi 600 mujahidin (alumni Afghanistan) saja menimbulkan kecemasan luar biasa, bagaimana dengan ribuan alumni ISIS yang pernah terlibat perang langsung di Irak dan Suriah jika mereka kembali ke Indonesia? Dari gambaran itu, kecemasan masyarakat terhadap ancaman ISIS seperti dilansir survei LSI sangat beralasan. Apalagi, kehadiran ISIS membawa harapan kemunculan kembali sistem khilafah yang selama ini diidam-idamkan oleh kelompok radikal Islam di seluruh dunia.

Itulah sebabnya, dukungan terhadap ISIS terus membesar. Baiat dan dukungan terhadap khalifah Abu Bakar al-Baghdadi datang dari tokoh-tokoh Alqaidah, seperti Syaikh Anas Ali Al-Naswan (Dewan Syariah Alqaidah Afghanistan), Syaikh Abdullah Osman (Dewan Syariah Alqaidah Islamiyah Maghrib (AQIM), dan kelompok Jabhah Nushrah wilayah Damaskus.

Dukungan juga datang dari kelompok radikal di Yaman, Mindanao di Filipina Selatan, Boko Haram di Afrika, dan as-Shabab di Somalia.

Di Indonesia, dukungan datang dari Khilafatul Muslimin yang dipimpin Abdul Kadir Baraja, kelompok Bima, kelompok Sulawesi Selatan, kelompok Tangerang, Malang, Bekasi, Serpong, Solo, dan narapidana teroris di Pulau Nusa Kambangan (Mufid, 2015).

Peristiwa Jakarta hendaknya menyadarkan pemerintah bahwa terorisme masih terus mengancam kita. Program deradikalisasi yang selama ini dilakukan tampaknya perlu diperdalam lagi materinya –terutama yang terkait ayat-ayat peperangan dengan kemanusiaan dalam Alquran dan sunah Rasul. Ini karena bagaimana pun, aksi terorisme ISIS bukan sekadar ambisi kekuasaan, tapi juga ideologis.

Karena itu, di samping pemberantasan terorisme dengan instrumen fisik (senjata), penting pula pemberantasan terorisme dengan instrumen ideologis.

Sumber:  REPUBLIKA, 16 Januari 2016

Juga baca: