Mewaspadai Masuknya Konflik Sektarian

iadi_malala
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2015 asal Pakistan, Malala Yousafzai, dalam perawatan setelah ditembak oleh kelompok bersenjata Taliban. Masalah sektarian telah mengusik Pakistan beberapa dekada belakangan ini. (Foto: dok.Ist)

 

Dimanika proses pemilihan Presiden Amerika Serikat diwarnai oleh sorotan tajam terhadap salah satu kandidat dalam Partai republik, Donald Trump. Dan hal itu terjadi dalam wilayah yang kental dengan masalah sektarian, terutama sorotan negatif terhadap warga Muslim Amerika Serikat.

Situasi ini pantas mendapatkan perhatian, di mana di AS yang dikenal gigih dalam menghormati hak asasi manusia, masalah sektarian ini muncul dengan keras dan dalam arus besar politik di sana. Apalagi kalau dilihat secara lebih luas, negara-negara Barat, termasuk  Jerman, Prancis, Inggris, dan Belanda juga dalam suasana perdebatan keras tentang masalah sektarian.

Dalam beberapa dekade ini, masalah sektarian telah menjadi isu sentral memicu konflik dan ketidak-stabilan berbagai negara. Perang dan konflik bersenjata di Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia juga tidak lepas dari masalah sektarian yang diawali dengan dibangunnya kebencian pada kelompok lain.

Sumber Ketidak-stabilan

Bisa saja kita mengatakan bahwa isu sektarian hanyalah kondisi yang dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan. Atau kita berpendapat bahwa akar masalah memang berada pada wilayah sektarian. Hal itu bergantung pada sudut pandang dan kepentingan kita melihatnya.

Namun sebagai isu yang diperalat ataupun sebagai sumber konflik dan ketidak-stabilan, masalah sektarian ada dan tidak bisa diabaikan. Berita-berita konflik sektarian dari Afganistan dan Pakistan dalam tiga dekade belakangan ini bisa dijadikan contoh gambaran tentang sulitnya memulihkan stabilitas ketika masalah sektarian tidak bisa dituntaskan.

Proses politik dan pembangunan ekonomi terseok-seok oleh masalah sektarian yang merusak stabilitas negara. Pekan ini, misalnya muncul berita bahwa 40 persen lebih wisawatan asal Jerman membatalkan kunjungan ke Tunisia, Mesir dan Turki, karena alasan keamanan. Akibatnya akan besar pada bidang ekonomi, terutama industri pariwisata. Padahal ini baru mengenai wisatawan dari satu negara.

Menyebar Luas

Masalah sektarian belakangan ini juga menunjukkan penyebaran yang makin luas. Kita bisa saja membebankan tanggung jawab ini pada perkembangan teknologi informasi yang pesat. Ketegangan sektarian di satu wilayah dengan cepat disebarkan melalui teknologi informasi dan segera mempengaruhi orang-orang di wilayah lain, melampaui benua dan melintasi samudera.

Relasi yang baik di antara warga tiba-tiba ikut menjadi tegang dengan masing-masing mengidentifikasi diri dengan pihak-pihak yang konflik di wilayah lain. Konflik yang diwarnai masalah sektarian menjunjukkan konflik yang paling cepat menyebar. Dan masalah sektarian yang mengeras di Eropa dan Amerika, tidak lepas dari apa yang terjadi di Timur Tengah, terutama negara-negara yang dilanda revolusi ‘’Musim Semi Arab’’ (Arab Spring).

Dalam situasi seperti ini stabilitas sebuah negara sangat ditentukan oleh ketahanan dalam menangkal masuknya masalah sektarian, terutama yang menyusup dalam proses politik dan persaingan untuk kekuasaan.

Sektarian dalam Politik

Kita di Indonesia juga tidak bisa menganggap sepi masalah ini karena secara geografis jauh dari negara kita. Kita tidak bisa mengelak dengan mengabaikan kenyataan bahwa teknologi informasi tengah menjadi ‘’jalur cepat’’ penyebaran konflik sektarian. Apalagi masalah sektarian sebenarnya juga ada di negeri kita dengan berbagai letupannya di berbagai daerah.

Kita tidak bisa mengabaikan masalah yang dihadapi warga penganut Islam Ahmadiyah, dan juga Islam Syiah. Sebagian mereka menjadi pengungsi di negeri sendiri selama belasan tahun. Masih ada masalah di Singkil, Provinsi Aceh, juga di Tolikara dan wilayah lain Papua. Para etile politik masih gemar menggunakan isu sektarian dalam proses politik. Ini terlihat dalam pemilihan parlemen, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, dan di Jakarta sedang dihembuskan untuk pemilihan gubernur.

Situasi dunia dengan maraknya konflik sektarian haruslah menyadarkan kita bahwa ‘’bermain’’ dengan masalah sektarian terlalu berbahaya, dan risikonya terlalu besar, terutama karena tidak ada yang akan diuntungkan oleh situasi ini.

 

Sumber: satuharapan.com, editorial, 4 Maret 2016

Advertisements